39. Perapian Yang Menyala

Raja Naibukadnaizar, raja kerajaan Babil, membuat sebuah patung emas yang besar sekali.  Ia mendirikannya di tempat  di mana semua orang dapat melihatnya.  Kemudian semua raja wilayah, para gubernur, bupati, penasihat negara, bendahara, hakim, ahli hukum dan semua kepala daerah diundang untuk menghadiri upacara peresmian patung emas itu.

            Setelah mereka semua datang, berserulah ajudan raja dengan nyaring,  “Dengarlah perintah raja!  Jika terompet berbunyi diikuti bunyi seruling, kecapi, dan alat-alat musik lainnya, Saudara-saudara harus sujud menyembah patung emas yang telah didirikan oleh Paduka Raja.  Barangsiapa tidak sujud menyembah patung itu ia akan langsung dilemparkan ke dalam perapian yang menyala-nyala.”

            Ada 3 orang yang sudah tahu bahwa mereka tidak boleh menyembah patung itu.  Sadrakh, Mesakh, dan Abednego menyembah Allah Yang Maha Esa. Allah sudah berfirman, “Jangan menyembah patung. . . karena Akulah Tuhan Allahmu, dan Aku  tidak  mau disamakan dengan apa pun.”  Tidak mungkin Sadrakh, Mesakh, dan Abednego sujud menyembah patung emas raja itu.

            Ada beberapa orang di Babil yang tidak suka kepada Sadrakh, Mesakh, dan Abednego.  Orang-orang itu memakai kesempatan tersebut untuk mencelakakan mereka.

            Orang-orang itu berkata kepada Raja Naibukadnaizar, “Hiduplah Tuanku selama-lamanya!  Apakah Tuanku telah mengeluarkan perintah bahwa ketika ada bunyi musik semua orang harus sujud menyembah patung emas itu?”

            “Benar,” jawab raja.

            “Tetapi beberapa orang Yahudi tidak ikut menyembah patung itu,” kata mereka.  “Sadrakh, Mesakh, dan Abednego, yang Tuanku serahi pemerintahan propinsi Babil, tidak menyembah patung itu.  Mereka tidak mau memuja tuhan Tuanku.”

            Mendengar itu sang raja menjadi marah sekali.  Ia menyuruh ketiga orang itu  dibawa  menghadap kepadanya.  Raja bertanya kepada mereka, “Sadrakh, Mesakh, dan Abednego!  Betulkah kalian tidak mau menyembah tuhanku dan tidak mau pula sujud kepada patung emas yang telah kudirikan itu?”

            Jawab mereka, “Betul, Tuanku.”

            “Aku mau memberi kalian satu kesempatan lagi.  Pada waktu musik berbunyi, kalian harus sujud menyembah patung itu.  Jika kalian tidak mau, kalian akan langsung dilemparkan ke dalam perapian yang menyala-nyala.  Siapakah yang akan menolong kalian?”

            Sadrakh, Mesakh, dan Abednego menjawab, “Baginda yang mulia, kami tidak akan mencoba membela diri.  Allah SWT. yang kami sembah sanggup menyelamatkan kami dari perapian yang menyala-nyala.   Tetapi  seandainya  Ia  tidak  menyelamatkan  kami, kami akan tetap menaati perintah Allah SWT.  Kami tidak akan menyembah dewa Tuanku dan tidak pula akan sujud menyembah patung emas itu.”

            Maka meluaplah amarah Raja Naibukadnaizar.  Ia memerintahkan supaya perapian dibuat 7 kali lebih panas daripada biasanya.  Lalu ia menyuruh beberapa orang yang sangat kuat dari tentaranya untuk mengikat Sadrakh, Mesakh, dan Abednego, serta melemparkan mereka ke dalam perapian yang menyala-nyala itu.

            Ketika Sadrakh, Mesakh, dan Abednego dilemparkan ke dalam perapian, nyala api itu begitu panas. Orang-orang yang mengangkat Sadrakh, Mesakh, dan Abednego mati terbakar.

            Tiba-tiba Raja Naibukadnaizar sangat terkejut.  Ia bangkit dengan cepat dan berseru kepada para pegawainya.  “Bukankah kita tadi mengikat 3 orang dan melemparkan mereka ke dalam api itu?”

            “Memang benar, Tuanku,” jawab mereka.

            “Tetapi aku melihat ada 4 orang berjalan-jalan di tengah-tengah api itu.  Mereka tidak terikat dan sama sekali tidak apa-apa.  Dan yang keempat itu rupanya seperti dewa.”

            Lalu Raja Naibukadnaizar mendekati pintu perapian itu dan berseru, “Sadrakh, Mesakh, dan Abednego, hamba-hamba Allah yang mahatinggi!  Keluarlah dari perapian itu!”  Jadi keluarlah mereka.

            Sadrakh, Mesakh, dan Abednego diamati dengan teliti.  Mereka sama sekali tidak tersentuh  api.  Bau asap pun tidak ada pada mereka.

            Lalu berkatalah raja, “Pujilah Allah yang disembah Sadrakh, Mesakh, dan Abednego.  Dia telah mengutus malaikat-Nya untuk menyelamatkan ketiga hamba-Nya yang percaya kepada-Nya.  Mereka lebih rela mati daripada menyembah dewa mana pun kecuali Allah mereka sendiri.”

            “Sebab itu aku memerintahkan bahwa setiap orang yang menghina Allah yang mereka sembah, akan dihukum.  Sebab tidak ada dewa yang dapat melakukan apa yang telah dilakukan Allah itu.”

            Setelah itu raja menaikkan pangkat Sadrakh, Mesakh, dan Abednego sehingga mereka menjadi pejabat-pejabat tinggi di propinsi Babil.

Pertanyaan :

Apa yang dibuat Raja Naibukadnaizar?

Ketika ada bunyi musik, semua orang harus melakukan apa?

Siapakah yang tidak menyembah patung itu? 

Mengapa mereka tidak menyembah patung itu?

Apakah Raja Naibukadnaizar memberi mereka kesempatan sekali lagi untuk menaati perintahnya?

Apa jawaban mereka?

Apa yang terjadi ketika Sadrakh, Mesakh, dan Abednego dilemparkan ke dalam perapian oleh tentara-tentara raja?

Mengapa Raja Naibukadnaizar terkejut?

            Bagaimana Sadrakh, Mesakh, dan Abednego diselamatkan?

Siapakah yang paling berkuasa?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: