13. Nabi Ibrahim Menyerahkan Ishak

Nabi Ibrahim sudah berumur 100 tahun dan Sarah, istrinya, 90 tahun.  Mereka sudah terlalu tua untuk memperoleh keturunan, tetapi Allah SWT. sudah berjanji kepada mereka bahwa mereka akan mempunyai banyak keturunan.  Allah SWT. selalu menepati janji-Nya.  Sarah pun hamil walau masa melahirkan bagi Sarah sudah lewat.  Tidak ada yang mustahil bagi Allah SWT.  Sarah melahirkan seorang anak laki-laki. Anak itu diberi nama Ishak.  Arti nama Ishak ialah tertawa.  Sarah ingat bahwa ia tertawa ketika Allah SWT. memberitahukan kabar itu kepada suaminya, Nabi Ibrahim.  Jadi dia memberi nama Ishak kepada putranya. Sarah berkata, “Siapa pun yang mendengar bahwa Sarah yang terlalu tua untuk melahirkan sudah mempunyai anak, akan tertawa juga.”

Ishak disunat waktu masih bayi. Ia terus bertumbuh menjadi besar. Ia suka belajar menolong orang tuanya.  Nabi Ibrahim dan Sarah sangat mengasihi anaknya yang tunggal itu.  Mereka bergembira mengasuh anaknya dan memberi apa saja yang Ishak perlukan.  Mereka mengajarkan hal-hal ketauhidan kepada Ishak, yaitu bagaimana beriman kepada Allah Yang Maha Esa dan Yang Mahakuasa.  Keluarga Nabi Ibrahim berbahagia dan diberkati oleh Allah SWT.

Ishak sudah menjadi seorang pemuda ketika Allah SWT. ingin menguji iman Nabi Ibrahim.  Allah SWT. memanggil, “Ibrahim!”  Lalu Nabi Ibrahim menjawab, “Di sinilah aku hamba-Mu, ya Allah, ya Tuhanku.”  Kata Allah SWT., “Pergilah ke tanah Moria dengan Ishak, anakmu yang tunggal, yang sangat kaukasihi.  Di situ persembahkanlah anakmu sebagai kurban bakaran kepada-Ku.”

Keesokan harinya, pagi-pagi, Nabi Ibrahim membelah kayu untuk kurban bakaran dan mengikatkan kayu itu di atas keledainya.  Ia berangkat dengan Ishak dan dua orang hambanya ke Gunung Moria. Sesudah tiga hari perjalanan, Nabi Ibrahim dan Ishak meninggalkan kedua hambanya itu dan keledainya.  Nabi Ibrahim meletakkan kayu bakar untuk kurban itu pada pundak Ishak.  Ia membawa pisau dan bara api untuk membakar kayu.  Mereka pergi lebih jauh lagi untuk sholat.

Mereka berjalan bersama-sama, lalu Ishak berkata, “Ayah!”  Nabi Ibrahim menjawab, “Ada apa, anakku?”  Ishak bertanya, “Kita sudah membawa api dan kayu, tetapi di manakah anak domba untuk kurban itu?”  Nabi Ibrahim menjawab, “Allah SWT. sendiri akan menyediakan anak domba itu.”  Lalu keduanya berjalan terus.

Ketika mereka sampai di tempat yang dikatakan Allah SWT. kepada Nabi Ibrahim, ia mendirikan sebuah tempat pengurbanan dan menyusun kayu bakar itu di atasnya.  Lalu ia mengikat Ishak dan membaringkannya di tempat pengurbanan, di atas kayu bakar itu.  Nabi Ibrahim mengambil pisau, hendak menyembelih anaknya.  Tetapi malaikat Allah berseru kepadanya dari langit, “Ibrahim, Ibrahim!”  Jawab Nabi Ibrahim, “Ya Allah, Ya Tuhan.”  Kata Allah SWT. melalui malaikat itu, “Jangan membunuh Ishak!  Sekarang Aku tahu bahwa engkau bertaqwa kepada-Ku karena engkau tidak menolak untuk menyerahkan anakmu yang tunggal itu kepada-Ku.”

Lalu Nabi Ibrahim melihat ada seekor domba jantan. Tanduknya tersangkut dalam semak-semak. Allah SWT. menyuruh Nabi Ibrahim mengambil domba itu, lalu ia mempersembahkannya kepada Allah SWT. sebagai kurban pengganti Ishak, anaknya.  Allah SWT. menyediakan domba itu untuk dikurbankan.  Nabi Ibrahim mengambil domba itu dan menyembelihnya sebagai domba kurban. Itu menjadi tanda ketaatannya kepada Allah SWT.

Nabi Ibrahim berbakti kepada Allah SWT.  Ia percaya kepada Allah SWT. dengan iman yang sejati.  Nabi Ibrahim percaya, kalau Allah SWT. menghendaki Ishak menjadi kurban, Allah SWT. juga dapat menghidupkan Ishak kembali supaya janji Allah SWT. tetap terpenuhi.

Sesudah Nabi Ibrahim dan Ishak mengurbankan domba itu, mereka kembali kepada kedua hambanya yang sedang menunggu mereka.  Lalu mereka pulang.

Pertanyaan:

Apakah janji Allah SWT. kepada Nabi Adam dan Siti Hawa?

Apakah janji Allah SWT. kepada Nabi Ibrahim dan Sarah?

Mengapa manusia mempersembahkan kurban  kepada Allah SWT.?

Mengapa kelahiran Ishak merupakan satu mukjizat dari Allah SWT.?

Sebagai ujian, apakah yang Allah SWT. perintahkan kepada Nabi Ibrahim untuk dilakukan?

Apakah Nabi Ibrahim berhasil dalam ujian Allah SWT.?

Apa yang Allah SWT. sediakan sebagai pengganti Ishak?

Jikalau Allah SWT. tidak menyediakan anak domba itu, apakah yang terjadi?

Apakah Allah SWT. melupakan janji-janji-Nya?

Adakah sesuatu yang mustahil bagi Allah SWT.?

Apakah Allah SWT. dapat berbohong?

Nabi Ibrahim percaya sekali bahwa Allah SWT. dapat melakukan apa yang  sudah dijanjikan-Nya.  Apakah Saudara juga percaya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: