10. Nabi Ibrahim dan Luth Berpisah

Nabi Ibrahim serta istrinya, Sarah, dan keponakannya, Luth, dan pelayan-pelayannya sudah pindah ke Kanaan. Allah SWT. sudah berjanji kepada Nabi Ibrahim bahwa Tanah Kanaan akan diberikan kepada Nabi Ibrahim dan keturunannya.  Di Kanaan, walaupun Nabi Ibrahim belum memiliki Tanah Kanaan, ia diberkati oleh Allah.  Nabi Ibrahim kaya raya.  Ia memiliki domba, kambing, sapi, juga perak dan emas.

Keponakannya, yang bernama Luth, juga mempunyai keluarga, pelayan-pelayan, kambing domba, dan sapi.  Karena Luth dan Nabi Ibrahim memiliki banyak ternak,  padang rumput di tanah itu tidak cukup untuk ternak mereka yang begitu banyak.  Lalu terjadilah pertengkaran antara para gembala Nabi Ibrahim dan para gembala Luth.

Bayangkanlah!  Gembala-gembala Nabi Ibrahim berkata, “Pergilah!  Kami lebih dulu ada di sini.  Ternak Pak Ibrahim lebih penting daripada ternak Pak Luth.  Carilah padang rumput yang lain.”  Gembala-gembala Luth marah dan menyanggah, “Kami punya hak menggembalakan ternak Pak Luth di sini.  Mengapa kalian mengganggu kami?  Tanah ini bukan milik kalian!  Ternak kami harus makan juga.”  Mereka adu mulut sampai akhirnya ada yang berkelahi.

 Nabi Ibrahim sedih melihat pertengkaran antara pelayan-pelayannya dan pelayan-pelayan Luth.  Jadi, apakah yang Nabi Ibrahim lakukan?  Dapatkah  Saudara menerkanya?

Nabi Ibrahim berkata kepada keponakannya, “Luth, kita ini bersaudara. Tidak baik kalau orang-orangmu dan orang-orangku bertengkar.  Sebab itu sebaiknya kita berpisah saja.  Silakan, engkau boleh memilih terlebih dahulu.  Pilihlah bagian mana dari tanah ini yang kausukai.  Jika engkau pergi ke arah ini, Bapak akan pergi ke arah yang lain.”

Luth memandang tanah itu dan melihat bahwa di seluruh Lembah Yordan ada banyak air.  Jadi Luth memilih tanah yang paling subur dan berangkat ke arah timur.  Di situ ia menggembalakan ternaknya dekat satu kota yang bernama Sadum.  Ia tidak memikirkan pamannya yang lebih tua dan yang lebih patut dihormati.  Ia enak saja memilih tanah yang paling baik bagi ternaknya. Ia ingin lebih berhasil dan menjadi lebih kaya lagi.

Nabi Ibrahim tetap tinggal di Kanaan.  Tanahnya tidak begitu subur dibandingkan dengan tanah Luth, tetapi Nabi Ibrahim merasa senang karena tidak ada pertengkaran lagi. Jelas terlihat bahwa Nabi Ibrahim mementingkan orang lain.

Setelah Luth pergi, Allah SWT. berkata kepada Nabi Ibrahim, “Lihatlah ke sekeliling.  Aku akan memberikan kepadamu dan kepada keturunanmu seluruh tanah yang engkau lihat itu.  Tanah itu akan menjadi milikmu selama-lamanya.  Aku akan memberikan kepadamu keturunan yang sangat banyak sehingga tak dapat dihitung.”

Nabi Ibrahim percaya kepada firman Allah SWT. Di situ ia mendirikan tempat ibadah bagi Tuhan dan ia sholat menyembah Allah  Yang Maha Esa, Yang Mahakuasa, dan yang penuh rahmat.

Pertanyaan:

Mengapa pelayan-pelayan Nabi Ibrahim dan pelayan-pelayan Luth bertengkar?

Apakah yang Nabi Ibrahim lakukan?

Seandainya kita  menjadi Nabi Ibrahim, apakah yang akan kita lakukan?

Siapakah yang  lebih mementingkan diri sendiri?

Apakah Allah SWT. lebih senang dengan tingkah laku Nabi Ibrahim atau Luth?

Apakah janji Allah SWT. kepada Nabi Ibrahim?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: