52. Isa Almasih Menyembuhkan Banyak Orang

Di mana pun Isa Almasih pergi, Dia menolong banyak orang. Dia mengajar mereka dan Dia menyembuhkan orang-orang sakit. Dia juga mengusir roh-roh jahat.
Pada satu hari, ada seseorang yang berpenyakit kulit yang mengerikan datang kepada Isa. Pada waktu itu, ada satu jenis penyakit kulit yang mengerikan, yaitu penyakit kusta, satu penyakit yang paling memalukan. Kalau seseorang sakit kusta, ia tidak boleh tinggal di rumahnya. Ia pun tidak boleh tinggal di dalam kota. Ia harus tinggal di luar kota dan kalau ia melihat orang lain mendekatinya, ia harus berteriak, “Kotor! Najis!”, untuk memperingatkan orang itu bahwa ia berpenyakit kusta. Ia juga tidak layak sholat kepada Allah di tempat ibadat. Jadi orang ini pasti merasa terhina dan malu sekali.
Tetapi orang yang sakit kusta tadi memberanikan diri. Ia datang kepada Isa Almasih dan berlutut serta berkata, “Junjunganku, kalau Bapak sudi, tolonglah sembuhkan saya.”
Isa Almasih merasa kasihan kepada orang itu. Dia tidak mundur karena takut tertular penyakit kusta orang itu. Dia tidak menegur orang itu karena orang itu tidak berteriak, “Kotor! Najis!” Dia melakukan sesuatu yang aneh sekali. Dia mengulurkan tangan-Nya dan menjamah orang itu. Pasti orang itu sudah lama sekali tidak dijamah oleh orang lain. Pasti ia merasa dikasihi oleh Isa Almasih. Dan Isa Almasih berkata kepada orang itu, “Aku mau menyembuhkan kamu, sembuhlah!” Saat itu juga penyakitnya hilang dan ia sembuh. Lalu Isa menyuruh dia pergi kepada imam supaya imam dapat memastikan bahwa ia sudah sembuh.
Beberapa hari kemudian Isa kembali ke Kafr Nahum, suatu kota yang menjadi tempat tinggal-Nya sekarang. Tersebarlah kabar bahwa Ia sedang di rumah. Lalu banyak orang datang. Mereka berkerumun di sana sampai tidak ada lagi tempat. Di pintu pun penuh sesak dengan orang. Lalu Isa mengajar mereka tentang kerajaan Allah.
Sementara Ia berbicara, masuklah empat orang mengusung seorang yang lumpuh. Mereka hendak membawa orang lumpuh itu ke dekat Isa supaya disembuhkan. Tetapi karena orang-orang terlalu banyak, mereka tidak dapat sampai ke dekat-Nya. Jadi, mereka naik ke atap dan membongkar atap — tepat di atas Isa. Setelah lobang itu cukup besar, mereka menurunkan orang lumpuh itu bersama tikarnya. Waktu Isa melihat orang itu diturunkan dari atap, Dia sadar bahwa teman-teman orang yang lumpuh itu sungguh-sungguh beriman kepada kuasa Allah. Jadi, Dia berkata kepada orang lumpuh itu, “Anak-Ku, dosa-dosamu sudah diampuni.” Aneh, ya? Mengapa Dia berkata begitu? Mengapa Dia tidak berkata, “Sembuhlah!”
Beberapa guru agama yang sedang duduk di situ mulai bertanya-tanya di dalam hati, “Berani benar orang ini bicara begitu! Ia menghina Allah. Siapa yang boleh mengampuni dosa, selain Allah sendiri?” Mereka tidak tahu bahwa Isa Almasih adalah Domba Allah yang datang untuk menghapus dosa dunia, termasuk dosa orang lumpuh itu!
Isa Almasih tahu pikiran mereka. Lalu Ia berkata, “Mengapa kalian bertanya-tanya begitu di dalam hatimu? Manakah yang lebih mudah, mengatakan, ‘Dosamu sudah diampuni’, atau mengatakan ‘Bangunlah, angkat tikarmu dan berjalanlah’? Tetapi sekarang Aku akan membuktikan kepadamu bahwa di atas bumi ini Aku berkuasa mengampuni dosa.” Lalu Isa berkata kepada orang yang lumpuh itu, “Bangunlah, angkat tikarmu dan pulanglah!”
Orang itu bangkit, segera mengambil tikarnya, lalu berjalan keluar. Kejadian itu disaksikan oleh mereka semua. Orang-orang menjadi kagum, lalu memuji Allah: “Allahu Akbar!” seru mereka. Kata mereka juga, “Belum pernah kita melihat kejadian seperti ini!”

Pertanyaan :
Ketika orang yang berpenyakit kusta mendekati Isa Almasih, apa yang Isa
lakukan?
Biasanya bagaimana orang sakit kusta diperlakukan?
Siapakah yang menyembuhkan orang itu?
Kepada siapakah orang itu harus pergi untuk minta dipastikan bahwa ia sudah sembuh?
Ketika Isa Almasih pulang ke Kafr Nahum, apa yang terjadi?
Mengapa keempat orang itu membongkar atap rumah itu?
Apa yang Isa Almasih katakan kepada orang lumpuh itu? Mengapa?
Apakah Isa Almasih dapat mengampuni dosa?
Bagaimana reaksi beberapa guru agama yang ada di situ?
Bagaimana reaksi orang-orang lainnya?


%d blogger menyukai ini: