59. Anak yang Hilang

Isa Almasih sering mengajar melalui cerita. Berikut ini sebuah cerita yang terkenal tentang seorang anak yang hilang.
Ada seorang bapak yang mempunyai dua anak laki-laki. Kita tidak tahu siapa nama mereka. Jadi, bagaimana kalau kita memberi mereka nama untuk membuat cerita ini sedikit lebih mudah. Anak sulung bapak itu kita beri nama Agus; anak bungsu kita beri nama Yanto, setuju?
Beginilah sifat kedua anak dalam cerita ini: Yang pertama, Agus, adalah anak yang taat dan rajin dalam pekerjaan. Ia rajin belajar waktu masih menjadi murid di sekolahnya. Nilainya hampir selalu 8 atau 9. Setelah ia tamat sekolah, ia mulai bekerja untuk bapaknya. Ia tidak pernah malas dan tidak juga mengomel. Ia anak yang baik. Sebaliknya, adiknya, Yanto, selalu bandel. Waktu sekolah, ia nakal dan tidak rajin belajar. Ia sering bolos untuk memancing dengan teman-temannya. Nilainya hampir selalu jelek – banyak merahnya! Ia juga tidak suka membantu pekerjaan di rumah atau di ladang. Ia suka bermain saja.
Pada suatu hari, Yanto berkata kepada bapaknya, “Ayah, berilah saya bagian saya dari kekayaan kita. Saya sudah bosan di sini. Saya mau pergi ke kota untuk mengadu nasib.”
Bapaknya sedih sekali, tetapi ia tidak heran. Sudah lama ia melihat anaknya itu tidak betah di desa. Ia tahu bahwa anaknya harus menempa hidupnya, mungkin melalui kegagalannya nanti di kota. Maka dari itu, ayahnya membagi kekayaannya itu menjadi dua untuk kedua anaknya.
Beberapa hari kemudian anak bungsu itu, Yanto, menjual warisannya lalu pergi ke negeri yang jauh. Di sana ia hidup foya-foya. Ia membelanjakan semua uangnya. Ia pergi ke tempat-tempat hiburan seperti disko; ia minum-minum di bar; ia menonton film di mana-mana. Ketika ia masih punya uang, ia mempunyai banyak teman. Tetapi ketika uangnya habis, teman-temannya semua menjauhi dia. Ketika uangnya sudah habis semua, terjadilah di negeri itu suatu kelaparan yang besar sehingga ia mulai melarat. Jadi, ia mencari pekerjaan. Ia hanya mendapat pekerjaan sebagai penjaga babi di tanah seorang penduduk negeri kafir itu. Setiap hari ia harus menjaga babi-babi yang haram itu. Ia tidak diberi uang yang cukup untuk makanan yang enak. Jadi ia tetap merasa lapar. Ia begitu kelaparan sehingga ingin mengisi perutnya dengan makanan babi-babi itu — walaupun ia merasa jijik. Apa boleh buat, sebab walaupun ia begitu lapar, tidak seorang pun mau memberi makanan kepadanya.
Akhirnya, ia sadar dan berkata, “Orang-orang yang bekerja pada ayahku berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini hampir mati kelaparan! Aku akan berangkat dan pulang kepada ayahku. Aku akan berkata kepadanya, “Ayah, saya sudah berdosa dan kufur terhadap Allah dan terhadap Ayah. Tidak layak lagi saya disebut anak Ayah. Anggaplah aku seorang pekerja Ayah.” Lalu berangkatlah ia pulang kepada ayahnya.
Sementara itu, apakah ayah Yanto sudah melupakan anaknya? Apakah ia begitu jengkel atau sudah tidak mau lagi memikirkan anaknya yang bungsu itu? Sama sekali tidak! Setiap hari ayah Yanto mendoakan anaknya yang hilang itu. Ia sangat mengasihi anaknya dan ia rindu sekali kepada anaknya. Setiap hari bapak ini pergi ke ujung jalan untuk melihat apakah anaknya sudah pulang. Jadi, ketika Yanto mendekati desa dan rumahnya, ayahnya sudah melihat dia dari jauh. Dengan sangat terharu ayahnya lari mendapatinya, lalu memeluk dan menciumnya. Bayangkanlah, Saudara-saudara! Apakah Yanto berpakaian bagus? Apakah ia bersih dan rapi? Pasti tidak. Yanto berpakaian compang-camping; rambutnya panjang dan kotor; bau badannya tidak enak, tetapi walaupun begitu, bapaknya memeluknya dan menciumnya.
Kata Yanto kepada bapaknya, “Ayah, saya sudah berdosa terhadap Allah dan terhadap Ayah. Tidak layak lagi saya disebut anak Ayah.” Tetapi ayahnya memanggil pelayan-pelayannya dan berkata, “Cepat! Ambilkan pakaian yang paling bagus. Pakaikanlah kepadanya. Kenakanlah cincin pada jarinya, sepatu pada kakinya. Sesudah itu ambillah anak sapi yang gemuk dan sembelihlah. Kita akan makan dan bersukaria. Sebab tadinya anakku ini dianggap sudah mati, tetapi sekarang ia hidup lagi. Ia tadinya hilang, tetapi sekarang sudah ditemukan.” Lalu berpestalah mereka.
Sementara itu, anak yang sulung, Agus, ada di ladang. Ketika ia pulang dan sudah dengan dekat rumahnya, ia mendengar suara musik dan tari-tarian. Ia memanggil salah seorang dari pelayan-pelayannya, lalu bertanya, “Ada apa ini di rumah?” Pelayan itu menjawab, “Adik Tuan kembali! Ayah Tuan sudah menyuruh kami menyembelih anak sapi yang gemuk, sebab Tuan sudah mendapatkan anaknya kembali dalam keadaan selamat!”
Apakah Agus ikut senang? Apakah ia lari untuk menyambut adiknya dengan kasih sayang? Tidak! Ia marah sekali sehingga ia tidak mau masuk ke rumah. Lalu ayahnya keluar dan membujuk dia masuk. Tetapi ia berkata, “Bertahun-tahun lamanya aku bekerja keras untuk Ayah. Tidak pernah aku membantah perintah Ayah. Tetapi apakah yang Ayah berikan kepadaku? Seekor kambing pun belum pernah Ayah berikan untukku untuk berpesta dengan kawan-kawanku! Yanto sudah menghabiskan kekayaan Ayah dengan perempuan pelacur, tetapi begitu ia kembali, Ayah menyembelih anak sapi yang gemuk untuk dia!” “Anakku”, jawab ayahnya, “engkau selalu ada di sini dengan aku. Semua yang kumiliki adalah milikmu juga. Tetapi kita harus berpesta dan bergembira sebab adikmu itu tadinya hilang, tetapi sekarang sudah ditemukan kembali.”
Dengan cerita ini, kita dapat mengerti betapa besar kasih Allah kepada setiap orang. Bapak dalam cerita perumpamaan ini menggambarkan Allah, sedangkan kedua anak bapak itu menggambarkan kita. Allah ingin supaya kita meninggalkan kebiasaan kita yang buruk dan kembali mencari kasih Allah. Isa Almasih datang ke dunia ini untuk menolong kita. Kita mengetahui betapa besar kasih Allah SWT., sebab Allah mahabesar dan mahakasih.

Pertanyaan :
Bapak di dalam cerita tadi mempunyai berapa orang anak?
Bagaimana sifat anak yang bungsu, Yanto?
Bagaimana sifat anak yang sulung, Agus?
Apa yang Yanto minta dari ayahnya? Mengapa?
Apa yang dilakukannya dengan warisannya?
Kapan Yanto mempunyai banyak teman?
Ketika uangnya habis, apa yang Yanto alami?
Bagaimana Yanto menjadi sadar dan mengambil keputusan untuk pulang?
Bagaimana ayahnya menyambut dia?

Bagaimana kakaknya menyambut dia?
Apa yang kita pelajari dari cerita Isa Almasih tentang anak yang hilang ini?


%d blogger menyukai ini: