14. Esau dan Yakub

Sesudah Nabi Ibrahim meninggal, Allah SWT. berbicara kepada Nabi Ishak dan memberitahu semua janji yang pernah disampaikan-Nya kepada Nabi Ibrahim, yaitu bahwa Orang yang dijanjikan, yang akan mengalahkan Iblis, akan lahir dari garis keturunan Nabi Ishak.

Nabi Ishak menikah dengan seorang wanita yang bernama Ribka. Ia adalah wanita yang sholihat, maksudnya, ia percaya kepada Allah Yang Maha Esa.  Allah SWT. memberkati Nabi Ishak dan Ribka dengan anak kembar laki-laki.  Anak kembar itu diberi nama Esau dan Yakub.  Walaupun Esau dan Nabi Yakub anak kembar, mereka berbeda sekali.  Esau warnanya kemerah-merahan dan kulitnya seperti jubah yang berbulu.  Ketika Esau sudah besar, ia menjadi pemburu yang cakap dan suka tinggal di padang.  Di pihak lain, Nabi Yakub, kulitnya tidak seperti jubah yang berbulu; kulitnya licin. Nabi Yakub bersifat tenang dan suka tinggal di rumah.

Esau, yang sulung, seharusnya menerima seluruh warisan Nabi Ishak, termasuk janji Allah SWT.  Tetapi Esau tidak menghargai janji Allah SWT. yang sudah lama diberikan kepada Nabi Ibrahim dan keturunannya.

Pada suatu hari ketika Nabi Yakub sedang memasak sayur kacang merah, Esau baru pulang berburu; dan ia sangat lapar.  Ia berkata kepada Yakub, “Saya lapar sekali,  minta sedikit sayur kacang merah itu.”  Walaupun Esau tidak menghargai janji Allah SWT., Nabi Yakub memandang janji Allah SWT. itu penting sekali.  Ia melihat ada kesempatan untuk mengambil alih hak untuk menerima barokah  dan janji Allah SWT.  Ia menjawab, “Ya, saya rela memberi sedikit sayur kacang merah saya kepadamu kalau saya dibayar.  Saya minta dibayar dengan hakmu sebagai anak sulung – hak untuk menerima penggenapan janji Allah SWT.”

Kata Esau, “Peduli amat dengan hak itu.  Saya lapar setengah mati!  Beri saya makanan itu sebelum saya pingsan!”

Kata Nabi Yakub pula, “Bersumpahlah dulu bahwa kau akan memberikan hakmu kepada saya.”

Esau bersumpah dan memberikan hak kesulungannya kepada Nabi Yakub.  Setelah itu Nabi Yakub memberi dia roti dan sebagian dari sayur kacang merah itu.  Demikianlah Esau meremehkan haknya sebagai anak sulung.  Esau tidak percaya bahwa janji Allah SWT. kepada Nabi Ibrahim dan bapaknya, Nabi Ishak, masih berlaku.

Pertanyaan:

Siapa nama anak-anak Nabi Ishak dan Ribka?

Apakah perbedaan mereka?

Siapakah yang lebih tua dan yang berhak menerima warisan dari bapaknya?

Apakah ia memandang bahwa warisan bapaknya penting?

Siapakah yang memandang janji Allah SWT. dan warisan itu penting?

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: